Kisah Uwais al-Qarny, Pemuda yang Terkenal di Penduduk Langit

0


Uwais al-Qarny adalah seorang pemuda mulia yang hidup pada zaman rosululloh SAW, ia adalah seorang yang tak terkenal di dunia namun sangat terkenal di langit, bahkan para sahabat nabi Muhammad SAW awalnya sama sekali tak tahu dan tak mengenal siapa itu Uwais al-Qarny.

Lalu bagaimana bisa ia bisa sangat terkenal di penduduk langit ? Apa amalan dan ibadah yang ia lakukan ?

Nah berikut kita akan mengenal sosok Uwais al-Qarny pemuda mulia yang dikabarkan oleh Rosululloh SAW dalam hadistnya sebagai penduduk langit, bahkan Rosululloh memerintahkan sahabatnya yaitu Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Khattab agar meminta didoakan oleh Uwais Al Qarni, karena doanya tidak pernah ditolak Allah SWT, Simak Penjelasannya

Kisah Uwais al-Qarny mungkin bisa memberikan pelajaran hidup yang berharga, Uwais al-Qarny hidup serba kekurangan, ia tinggal di negeri yaman bersama satu-satunya orang tua yaitu seorang ibunya, Uwais al-Qarny menderita penyakit Kopak atau tubuhnya belang-belang.

Namun dengan begitu, tak membuat Uwais al-Qarny mengeluh dan berputus asa, ia justru tumbuh menjadi pemuda yang sabar dan sangat berbakti kepada orang tuanya yaitu ibunya. Ternyata kondisi ibunya tak kalah memprihatinkan, dikarenakan ibunya sudah tua renta dan mengalami kelumpuhan, hal inilah membuat ibunya sangat membutuhkan hadirnya Uwais al-Qarny untuk merawat dan memberikan semua kebutuhan dan permntaan ibunya.

Suatu ketika, Uwais al-Qarny merasa sangat berat untuk menuruti permintaan ibunya yaitu ingin berhaji ke tanah suci. Bagaimana bisa Uwais al-Qarny yang miskin bisa menuruti permintaan ibunya untuk berhaji, sedangkan perjalanan ke Makkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas dan perbekalan yang tidak sedikit. “Namun dengan begitu, Allah SWT mempunyai caranya tersendiri ketika hendak mengundang hamba-hambanya ke kabah”

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya.

Meski agak terkejut, namun Uwais al-Qarny tak berkecil hati melihat keadaannya, ia terus mencari cara supaya ibunyaa bisa berhaji ke tanah suci. Sambil mencari jalan keluar, ia akhirnya membeli seekor anak lembu dan membuatkan sebuah kandang untuk lembu tersebut di atas bukit, hal ini membuat Uwais al-Qarny setiap hari bolak-balik menggendong anak lembu naik turun bukit.

Makin hari anak lembu itu semakin membesar, dan makin besar pula tenaga yang dibutuhkan uwais untu menggedong anak lembu tersebut, Namun karena sudah terbiasa setiap hari, lembu tersebut tidak terasa berat lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim di Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang semakin besar. ia sudah terbiasa mengangkat barang yang berat, Namun ternyata, maksud dan tujuan uwais menggedong anak lembu setiap hari adalah untuk mempersiapkan dirinya menggendong ibunya dari yaman menuju tanah suci Mekkah. Begitu besarnya kasih sayang Uwais kepada sang Ibu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih di tengah talapak tangannya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan yang disisakan di tengah talapak tangannya? agar mudah ditemukan oleh Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Karena saat masih hidup Rasulullah berpesan agar kedua sahabat Nabi itu untuk mencari Uwais dan meminta di doakan karena doanya sangat makbul.

Baca Juga : 13 Waktu Istimewa Untuk Berdoa Yang Cepat Dikabulkan Dan Mustajab

Rasululloh berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan). (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Berangkat Ke Madinah untuk menemui Rasululloh

 
Dalam hidupnya, Uwais Al-Qarni sangat mecintai Rasulullah SAW. Ia begitu sedih ketika melihat tetangganya kembali dari Madinah dan bisa menemui kecintaannya itu alias bertemu Rasulullah SAW. Suatu ketika, berita tentang patahnya gigi Nabi Muhammad saat perang Uhud terdengar ke berbagai negeri. Ia pun kemudian menggetok salah satu giginya dengan batu hingga patah sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad SAW.

Uwais mengaku sangat ingin bertemu dengan utusan Allah SWT itu, Ketika kerinduan Uwais memuncak dan tak dapat ditahan lagi. Akhirnya Ia mendekati ibunya untuk meminta izin pergi menemui Rasul. Mendengaar permohonan sang anak, Ibu Uwais mengizinkannya pergi. “Pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Mendengar jawaban ibunya. Hati Uwais begitu gembira. Ia segera berkemas dan meninggalkan Yaman. Namun Ia terlebih dahulu mempersiapkan segala kebutuhan sang Ibu, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Perjalanan pun dimulai, jauhnya dari yaman menuju Madinah ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu Nabi Muhammad SAW. Setelah sampai di Madinah, sampailah Uwais di rumah Nabi. yang mulia, pada saat itu Nabi tengah dalam peperangan dan hanya ada Aisyah ra dirumah. Betapa kecewanya hati Uwais. ia jauh-jauh datang dari yaman untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Pada saat yang bersamaan, uwais ingat kepada ibunya yang sendirian dirumah. Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terdengung di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Uwais Al-Qarni dengan terpaksa dan berat hati pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat sedih.

Setelah peperangan usai, Nabi Muhammad SAW kemudian kembali ke Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi bertanya kepada Siti Aisyah perihal siapa yang datang mencarinya. Aisyah pun mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang mencarinya,

Nabi mengatakan bahwa itu adalah Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, ia adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

 

Pertemuan Uwais al-Qarny dengan Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib

 
Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra.
Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?
Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka.
Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Mukzizat Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni meninggal dunia. Namun ada yang janggal ketika penghuni langit ini wafat. Ada begitu banyak orang yang datang tanpa diketahui asalnya. Padahal Ia bukanlah sosok terkenal.
Saat akan dimandikan, ada banyak orang yang berebutan ingin memandikannya. Demikian juga ketika akan dikafani, sudah banyak yang menunggu dan ingin mengafaninya. Hal yang sama juga terjadi ketika hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Kematian Uwais menggemparkan negeri Yaman. Karena Ia bukan siapa-siapa, namun begitu banyak orang yang datang saat meninggalnya dan mengurus jenazahnya. Padahal semasa hidup, Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.
Hal inilah yang membuat penduduk Yaman tercengang dan bertanya-tanya siapa sebenarnya Uwais.
“Bukankah dia hanyalah seoarang penggembala kambing dan unta yang miskin, namun mengapa begitu banyak orang yang datang mengurusi pemakamannya”
Berita keanehan ini menyebar ke seluruh negeri. Sejak saat itulah penduduk Yaman tahu siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Karena selama ini Khalifah Umar ra dan Ali ra merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here