in

5 Dampak Pola Asuh ‘Toxic Parents’ terhadap Si Anak

Photo by Emma Bauso from Pexels

Hampir semua orang tua pasti mencintai dan menginginkan anaknya bahagia. Apapun akan dilakukan untuk memberikan yang terbaik bagi sang anak. Namun, tidak sedikit pula orang tua yang menjadikan ini sebagai alasan untuk mengatur kehidupan anaknya.

Sayangnya, tanpa disadari banyak orang tua justru melakukan tindakan yang bisa memunculkan toxic parenting.

Toxic parenting adalah pola asuh yang kurang baik atau keliru, sehingga tanpa sadar dapat melukai kesehatan mental anak. Pola didik tersebut kerap dilakukan oleh orang tua yang umumnya posesif, keras, tidak dewasa, serta memiliki gangguan psikologi.

Selain itu, pola asuh yang toxic juga cenderung melakukan komunikasi satu arah dengan sang anak. Dimana, orang tua cenderung mengedepankan keinginan pribadi, suka mengontrol hidup anak sesuai dengan keinginan mereka demi kepuasan semata, serta tidak memberikan hak anak secara sepenuhnya. 

Tindakan toxic parenting tidak hanya mengenai kekerasan fisik saja, melainkan juga kekerasan mental dan batin.

Sementara, toxic parents adalah orang tua yang melakukan tindakan-tindakan tersebut tanpa sadar dapat merusak psikologi anak. Pola asuh seperti ini jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan bahaya yang fatal terhadap tumbuh kembang anak. Berikut dampak buruk pola asuh orang tua yang toxic bagi anak. 

1. Tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri

Salah satu efek bahaya dari pola asuh orang tua yang toxic adalah anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan penakut. Tidak ada yang salah jika orang tua ikut berperan dalam kehidupan sang anak.

Namun, akan menjadi masalah jika orang tua terlalu ikut campur dalam kehidupan anaknya. Terlalu banyak campur tangan yang diberikan oleh orang tua, membuat anak tidak akan mampu untuk hidup mandiri. Sehingga, tidak akan ada rasa percaya yang besar terhadap kemampuan yang ada pada dirinya.

Ditakutkan, ketika suatu hari nanti anak mendapatkan sebuah masalah. Bukannya menyelesaikan dan mencari solusi, tapi malah memilih pergi untuk menghindari masalah tersebut.

Seharusnya, orang tua memberi kebebasan kepada anak untuk memilih dan berpendapat tentang suatu hal.

Jika pun nantinya pilihan dan pendapat tersebut tidak sesuai dengan yang di harapkan. Alangkah baiknya, orang tua memberi nasihat, tanpa perlu mencecar dengan kata-kata yang menyudutkan. Sebab, dengan cara ini anak bisa tahu mengenai tanggung jawab dan konsekuensi dari pilihannya tersebut.

Selain itu, kurangnya apresiasi, dipandang sebelah mata, serta selalu dimarahi  juga akan membuat rasa percaya diri seorang anak hilang.

Pola asuh seperti itu, seharusnya tidak pernah diterapkan kepada anak. Karena tindakan-tindakan tersebut bukannya mendidik, tapi malah menjadi toxic bagi anak. Anak pun akan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Tentu, hal ini akan sangat mengkhawatirkan bagi kehidupannya ke depan.

2. Menjadi sosok yang emosional

Pernah dengar peribahasa, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, atau “orang tua adalah cerminan sang anak”. Faktanya, orang tua adalah suri tauladan pertama bagi seorang anak. Tumbuh kembang anak tergantung dengan nilai-nilai kehidupan yang dicontohkan oleh orang tuanya.

Sayangnya, tidak semua anak bisa mendapatkan nilai kehidupan yang baik dari orang tuanya. Sampai saat ini, masih banyak di masyarakat, anak hidup dengan didikan orang tua yang toxic.

Salah satu perilaku kecil yang paling menonjol dari toxic parenting ialah marah. Ketika orang tua tidak mampu menjaga emosinya dengan baik secara dewasa. Alhasil, anak tersebut berpotensi tumbuh menjadi sosok yang pemarah atau emosional. 

Selain itu, perilaku toxic tersebut akan tertanam dibawah alam sadarnya, tanpa disadari. Sehingga, ketika anak beranjak dewasa, cenderung meniru ulang dari tingkah laku orang tuanya.

Hal tersebut terjadi karena anak hanya mengenali ekspresi marah yang paling dekat dengan dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua mulai belajar mengontrol emosi saat berhadapan dengan sang anak. Jangan sampai pola asuhmu salah sehingga membuat generasi keturunan yang emosional.

3. Sulit dalam merencanakan hal positif di hidupnya

Anak yang hidup dengan pola asuh orang tua yang toxic, hanya akan melihat hal-hal negatif yang mendominasi dalam hidupnya. Hal ini karena hampir sepanjang hidupnya tindakan-tindakan toxic dari orang tualah yang paling dekat dengan mereka.

Ketika ada orang yang melakukan tindakan tidak sesuai ekspetasi. Secara tidak langsung, mereka akan bersikap marah dan mencecar dengan kata-kata kasar. Karena, bagi mereka jika ada orang salah harus segera di marahi agar tidak mengulangi kesalahan lagi.

Selain kekerasan secara verbal, mereka juga mudah melakukan kekerasan secara fisik. Hal ini karena, bagi mereka hal-hal negatif tidak ada yang salah, alias lumrah terjadi. Namun sebaliknya, mereka sangat asing sengan hal-hal yang positif.

Anak yang tumbuh dan berkembang dari pola asuh toxic, cenderung kesulitan dalam mencerna hal positif di hidupnya. Sebesar itulah dampak buruk dari perilaku toxic bagi pola pikir anak.

4. Takut menerimal hal yang baik dan bahagia

Kurangnya mendapatkan hal yang positif selama hidup membuat anak yang tumbuh dari pola asuh orang tua toxic akan sangat asing dengan rasa cinta dan kasih. Karena, sebagian besar hidupnya hanya merasakan hal-hal negatif.

Saat dewasa dan bertemu orang asing, tiba-tiba mendapatkan rasa nyaman, cinta, dan kebahagiaan. Bukannya senang, mereka malah akan merasa aneh dengan rasa tersebut. Sehingga, dalam dirinya merasakan ketakutan karena perasaan yang tidak pernah didapatkan selama ini.

Kenapa begitu? Karena, setiap harinya anak yang dibawah kendali toxic pareting hanya mendapatkan perasaan sedih, tertekan, dan tidak nyaman. Akibatnya, saat merasakan perasaan bahagia, mereka justru merasa asing dan khawatir perasaan tersebut tidak kekal atau sementara.

5. Trauma berkepanjangan

Dampak yang paling bahaya dari akar toxic parenting ialah perasaan trauma berkepanjangan. Pola asuh yang penuh tekanan, dapat berpotensi membentuk rasa trauma yang mendalam bagi sang anak.

Kondisi ini akan semakin buruk, apabila rasa trauma tersebut dibawa hingga ke masa dewasa. Trauma yang berkepanjangan pastinya akan berpengaruh buruk terhadap mental dan fisik anak. Akibatnya, hidup mereka terganggu dalam kurung waktu yang cukup lama.

Tidak ada yang salah dengan keinginan orang tua. Namun, pola asuh yang toxic bukan membuat anak bahagia, tapi malah berada di jurang penderitaan.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai dampak toxic parenting yang dilakukan orang tua terhadap sang anak. Perbaiki pola asuhmu atau kehilangan pribadi anak tersayangmu!