Jangan Sedih – Puasa di Perantauan Mengajarkan Kita Hidup Mandiri

0
Puasa di Perantauan Mengajarkan Kita Hidup Mandiri
Puasa di Perantauan Mengajarkan Kita Hidup Mandiri

Bagi anak rantau, gak perlu ditanya lagi gimana rasanya menjalani ibadah puasa di perantauan. Tiada kata yang bisa menggambarkan keinginan kita untuk menjalani ibadah puasa bersama sanak saudara terkhusus sama kedua orang tua kita. Bulan puasa tahun ini, kamu yang merantau belum bisa pulang. Tahun ini juga kamu harus rela berpuasa seorang diri. Sebab ada sesuatu hal yang belum bisa kita tinggalkan, seperti pekerjaan atau ujian di bangku perkuliahan.

Sedih jangan ditanya, orang mana yang nggak sedih kalo ia harus menjalani ibadah puasa jauh dari orang tua. Namun bagi kamu yang sedang merasa sedih, lebih baik simpan dulu kesedihan itu. Sebab kamu yang saat ini puasa di perantauan adalah pejuang yang sebenar-benarnya. Nggak percaya? Mari simak 6 hal dibawah ini supaya kamu bisa membuka mata bahwa puasa di perantauan tidak selalu menyedihkan, justru bisa mengajarkan kita sebagai orang yang mandiri.

1. Menjalani puasa di perantauan jauh dari orangtua dan keluarga pasti rasanya berbeda. Namun tahukah kamu kemandirianmu akan terasah dari sana?

Belajar mandiri via Unsplash

Sesaat menjelang bulan ramadhan, mungkin kamu akan membayangi gimana enaknya menjalani puasa bersama orangtua dan keluarga. Sahur dibangunin, membantu ibu nyiapin berbuka puasa, atau ibadah bersama-sama. Namun kali ini momen tersebut agaknya harus kamu tunda atau bahkan nggak ada momen-momen tersebut di bulan ramadhan kamu tahun ini. Karena tuntutan perantauan kamu mau tidak mau harus menjalani puasa jauh dari mereka. Baru dibayangkan saja sudah terasa sesak di dada dan bikin keluar air mata. Perasaan itu bukan tanpa sebab mengingat rasanya ada yang kurang di bulan puasa kali ini.

Walau menjalani puasa di perantauan itu nggak enak rasanya, cobalah ambil sisi positifnya. Kemandirian kamu yang makin hari makin terasah dari sana. Kapan lagi kamu bisa belajar mandiri dari keadaan yang tak menyenangkan. Berpikir positif lah.

2. Meski jauh dari orang-orang tersayang, coba tengok lagi di sekelilingmu. Pasti ada teman yang tidak bisa pulang sama sepertimu

Kamu gak sendiri via Unsplash

Kalau di pikir-pikir lagi, emang agak miris orang yang jalani puasa jauh dari keluarga. Namun sebelum berkecil hati. Coba tengok lagi orang-orang di sekitar kamu saat ini. Pasti ada seseorang yang jalani puasa jauh dari keluarga sama seperti dirimu. Oleh karena itu, simpan kesedihan kamu dalam-dalam. Kamu tidak benar-benar sendirian saat jalani puasa di perantauan.

3. Telat sahur atau berbuka seadanya mungkin akan kamu alami. Tapi itu pasti akan jadi sebuah pengalaman yang berharga

Yah kesiangan sahur via Unsplash

Saat jalani puasa jauh dari orangtua. Telat sahur adalah sesuatu hal yang biasa bagi kamu. Walaupun udah pasang alarm sepagi mungkin, namun jiwa anak muda yang terbiasa bangun siang hari masih saja membekas ketika kita tidur. Kesedihan makin terasa ketika kita berbuka dengan menu seadanya karena tabungan yang kian menipis.

Baca Juga: 10 Cara Agar Puasa Kita jadi Gak Terasa dan Kuat Sampai Maghrib

Jujur aja ketika kita merasakan hal tersebut di bulan puasa itu bikin kita mau meneteskan air mata. Kamu semakin merindukan suasana di rumah dan ingin segera pulang ke kampung halaman. Meski agak miris, tapi anggap saja hal itu sebagai pengalaman berharga untuk dirimu sendiri. Bukankah pengalaman di perantauan itu berharga? Bisa saja pengalaman tersebut menjadi bekalmu di masa yang akan datang dan kelak menjadi cerita yang indah untuk kamu kenang.

4. Rindu itu pasti, namun di bulan ramadhan ini kamu akhirnya bisa menghargai sebuah kebersamaan

Menghargai kebersamaan via Unsplash

Terkadang kamu akan merasa iri ketika melihat orang lain yang memposting unggahan kebahagiaan mereka karena bisa berbuka puasa dan sahur sama keluarganya. Tapi meski merasa sedih, yang terpenting dari itu semua adalah kamu akhirnya mengerti betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Coba bayangin kalo kamu selalu puasanya di rumah, sama-sama keluarga, mungkin kamu akan jarang menghargai kebersamaan sama mereka. Walaupun merasa sedih, tapi ambilah sisi positif-nya.

5. Jangan takut apalagi bersedih hati. Percayalah, di bulan yang penuh berkah ini kamu selalu bisa mengandalkan diri sendiri

Mengandalkan diri sendiri via Unsplash

Saat jalani puasa jauh dari orangtua dan keluarga, terkadang kamu akan merasakan kerinduan yang amat mendalam kepada mereka, khususnya rindu masakan ibu di rumah. Tak peduli seenak apapun menu berbuka puasa kamu di perantauan, adakalanya menu tersebut tak nikmat disantap jika tidak dimasak langsung oleh sang ibu. Namun itulah kenyataan yang harus kamu sikapi dengan ikhlas. Percayalah, di bulan yang penuh berkah ini, pasti ada hikmah dari setiap kesedihan yang kamu rasakan.

6. Sebenarnya menjalani puasa di perantuan bukan masalah sama sekali. Malah kamu mungkin akan jadi seorang panutan sejati

Semangat via Unsplash

Meski sedih karena puasa di perantauan, tapi hal itu bukanlah alasan kamu untuk tidak fokus mengerjakan rutinitas kamu saat ini, apalagi sampai menggangu ibadah kamu untuk mengejar pahala yang tak terbatas pada bulan suci ini. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai bulan kamu untuk memperbaiki diri sembari menyelesaikan kewajiban kantor atau kuliah agar kamu bisa cepat-cepat pulang dan bisa jalani puasa bersama orantua dan keluarga.

Buang jauh-jauh pemikiran menjalani puasa di perantauan adalah sesuatu hal yang menyedihkan. Sebab di hari nan fitri nanti. kemenangan yang kamu rasakan tak hanya berjuang melawan hawa nafsu saja namun juga kemenangan karena perjuangan menjalani puasa di perantauan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here