3 Cara Hidup Damai Dengan Hutang yang Perlu Kamu Tahu

Cara Hidup Damai Dengan Hutang

Jangan buru-buru men-judge kalau setiap hutang akan membuat hidup kamu tidak tenang atau membuat perasaan gelisah. Cermati baik-baik, mana hutang yang jahat dan mana hutang yang baik.

Mungkin kamu adalah pasangan muda yang baru menikah dan tinggal di rumah mertua. Sebenarnya kamu mungkin malu menumpang hidup kepada orang tua. Namun apa boleh daya, baik kamu dan pasangan mungkin belum memiliki cukup uang untuk membeli sebuah rumah.

Dan mungkin salah satu solusinya untuk membeli rumah adalah dengan kredit alias ngutang. Tapi kamu mungkin salah satu dari banyak pasangan yang alergi dengan hutang, apalagi kalau dengar kabar, hutang kartu kredit orang Indonesia yang jumlahnya sudah mencapai triliunan.

Jangan khawatir, kalau kamu bisa lebih teliti dan cermat dalam me-manage hutang, sebenarnya hutang ada yang baik dan menguntungkan. Tapi meskipun begitu, kamu juga harus disiplin dalam sebuah aturan untuk membatasi berapa jumlah hutang aman yang bisa kamu eksekusi.

Hutang terbagi menjadi 2, yaitu hutang produktif dan konsumtif. Hutang Produktif merupakan hutang yang baik, karena hutang ini biasanya digunakan untuk membeli barang-barang atau aset yang nilainya selalu bertambah seiring dengan waktu.

Hutang produktif juga memiliki perilaku untuk memberikan pemasukan dalam kantong pendapatan kamu dan bahkan hutang yang sangat produktif bisa membantu membayar cicilan hutang tersebut.

Contohnya adalah hutang KPR, dimana sebuah rumah merupakan salah satu aset yang memiliki nilai yang cenderung naik. Bahkan kalau rumah tersebut dikontrakkan, maka akan menjadi pemasukkan untuk membayar cicilan setiap bulannya.

Lalu hutang KPM juga bisa menjadi hutang produktif, ketika mobil itu disewakan dan uang dari hasil sewa bisa menutupi pembayaran cicilan setiap bulannya, meskipun nilai mobil pasti akan turun setiap tahunnya.

Kategori yang kedua adalah Hutang Konsumtif, hutang ini merupakan hutang yang biasanya digunakan untuk membeli barang-barang atau aset yang nilainya cenderung turun. Hutang ini juga merupakan contoh hutang jahat, apalagi dengan konsekuensi bunga yang tinggi ditambah nilai barangnya yang turun jauh dari harga jualnya.

Ini sangat berbahaya, karena setiap bulan kamu harus tetap membayar cicilan hutang tersebut, berikut bunganya yang tidak turun seiring dengan turunnya harga barang tersebut. Contoh dari hutang konsumtif adalah kredit hp, furniture dan lain sebagainya.

Meskipun kamu sudah tahu, bahwa ada hutang produktif yang bisa kamu manfaatkan untuk mendapatkan suatu aset, mungkin kamu masih ragu untuk berhutang. Apalagi membayangkan tingkat suku bunga yang sangat tinggi dan inflasi yang tidak menentu, bahkan cenderung meningkat, sedangkan gaji tidak naik-naik, atau meskipun naik tidak sebanding dengan tingkat inflasi.

Kamu sebenarnya tidak perlu khawatir, asal kamu memiliki pendapatan tetap. Karena itu kita harus pandai menganalisa setiap hutang yang akan diajukan. Salah satunya adalah melihat mundur kondisi laporan keuangan diri kamu sendiri sehingga kamu tahu kelemahan dan kekuatan untuk menopang kehidupan ekonomi kamu dan keluarga.

Berikut 3 kunci agar kamu bisa sukses dalam berhutang dan hidup dengan damai, khususnya pada hutang produktif KPR.

1. UKUR KEMAMPUAN

Pastikan bahwa besar pinjaman maksimum yang bisa kamu ajukan adalah maksimal 35% dari pendapatan bulanan, baik yang sifatnya pendapatan personal, apabila kamu sebagai kepala keluarga yang hanya bekerja sendiri, atau pun join income apabila pasangan kamu juga ikut mencari nafkah.

Sangat penting dipastikan bahwa pinjaman tersebut sudah include dengan pinjaman-pinjaman lainnya, seperti pinjaman kartu kredit. Jadi kalau pendapatan tetap kamu sebesar 7 juta, artinya belanja untuk hutang adalah Rp. 2.450.000, tidak boleh lebih. Pastikan kamu disiplin dalam hitungan ini.

Jangan lupa untuk menghitung kemampuan pendapatan kamu dalam membayar uang DP ( down payment ), yang biasanya bank menetapkan besarnya sekitar 20%.

Atau sebagai pilihan kalau uang DP tidak tersedia, carilah KPR dengan DP minimum atau 0%, karena saat ini sudah banyak kerjasama antara Developer dan Bank dalam mengadakan program-program kredit seperti itu. Tapi tetap ingat rasio kemampuan kamu dalam membayar hutang setiap bulannya hanya 35%, Not More !

Jangan sampai terbalik kamu naksir rumah terlebih dahulu, baru belakangan menghitung rasio kemampuan membayar hutang. Karena ini akan menjebak dalam suatu konsep, Gali Lubang Tutup Lubang.

Oleh karena itu pastikan kamu berhitung dulu kemampuan membayar hutang, baru mencari-cari rumah yang kamu inginkan dan pastinya sesuai dengan kemampuan kantong.

Baca Juga: 50 Kata Kata Pikiran Tidak Tenang, Kacau, dan Mumet

2. SISIHKAN DANA CADANGAN/DARURAT

Dana cadangan merupakan dana yang terpisah yang dibutuhkan pada saat kondisi-kondisi yang sifatnya mendesak, darurat, dan tiba-tiba atau tidak direncanakan terjadi. Sebagai contoh ketika kamu tiba-tiba terkena PHK, sakit, kecelakaan dan kebutuhan mendesak lainnya.

Memang pada saat kamu sakit atau mengalami kecelakaan, kamu mungkin bisa menggunakan asuransi atau fasilitas kesehatan pemerintah seperti BPJS, namun biasanya dengan uang tunai, rumah sakit akan lebih cepat memberikan pelayanan.

Besarnya kebutuhan akan dana cadangan/darurat ini setiap orang atau keluarga berbeda-beda. Tergantung jumlah pengeluaran dan berapa orang yang ditanggung dalam satu keluarga. Biasanya besar dana cadangan antara 3-12 kali dari kebutuhan pengeluaran setiap bulannya.

Sebagai contoh ketika kamu masih hidup sendiri dan belum menikah, serta pengeluaran kamu setiap bulannya 3 juta, maka dana cadangan yang sebaiknya kamu siapkan minimal 9 juta ( 3 juta x 3 ). Namun ketika kamu sudah menikah, memiliki 2 orang anak, maka dana cadangan/darurat yang perlu disiapkan minimal 36 juta ( 3 juta x 3 x 4 ).

Ketika kamu tetap memaksakan mengambil kredit KPR dengan kondisi dana darurat/cadangan kamu belum memenuhi target, tentunya akan sangat beresiko.

Bayangkan saja kamu harus membayar cicilan KPR, kartu kredit, ditambah dana cadangan. Pasti akan lebih berat dan membuat kehidupan kamu menjadi tidak nyaman dan gelisah, karena kamu harus selalu berpikir untuk selalu membayar cicilan dari bulan ke bulan. Karena itu pastikan kamu me-manage pendapatan dan pengeluaran kamu dengan lebih cermat, teliti dan tepat !

3. UBAH GAYA HIDUP

Ini masalah kecerdasan kamu dalam membelanjakan pendapatan. Pengeluaran memang kadang berbanding lurus seiring dengan bertambahnya pendapatan. Apalagi yang berhubungan dengan gaya hidup atau lifestyle. Semua keputusan dalam membelanjakan pendapatan kamu memang berada di tangan kamu sendiri.

Sebagai contoh hanya gara-gara ingin memberikan yang terbaik untuk anak, kamu lebih memilih susu import. Padahal produk lokal pun banyak yang kualitasnya bagus dan harganya lebih terjangkau.

Atau kamu lebih menyukai beli jus dengan kemasan karton, padahal kamu bisa membuat jus sendiri dari buah asli yang bisa kamu beli di pasar tradisional dengan harga yang lebih murah, tapi pastinya lebih sehat, karena kamu olah sendiri.

Mulailah membeli kebutuhan dari pasar-pasar tradisional, dengan begitu secara tidak langsung, kamu sudah membantu perekonomian para pedagang lokal.

Contoh lain, kamu mungkin salah satu yang hobi membeli tas branded, bahkan sampai harus berhutang dengan cicilan dan bunga. Daripada seperti itu, lebih baik kamu menabung untuk membelinya, bahkan ketika kamu membelinya dengan tunai nanti, kamu mendapatkan model terbaru. Menjadi lebih fashionable tidak harus membeli barang-barang bermerek dan mahal, apalagi sampai berhutang.

Terakhir pastikan kamu kelola hutang produktif secara cerdas agar kamu bisa hidup damai, tenang, tentram, dan nyaman, serta pastinya bisa tidur pulas. Semoga Bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here