“Toxic Relationship” Hubungan yang Menjerat, Jangan Diabaikan!

“Toxic Relationship” Hubungan yang Menjerat
“Toxic Relationship” Hubungan yang Menjerat
Iron Man
Iron Man
Print PDF

Jangan menutup mata pada aman yang ternyata menjerat.

Toxic relationship atau hubungan beracun adalah hubungan tidak sehat yang sangat destruktif, mampu menurunkan harga diri, kepercayaan diri, kebahagiaan hingga merubah perspektif tentang diri sendiri dan lingkungan.

Seolah-olah segala hal dalam hidup sedang dikendalikan oleh orang lain. Pada dasarnya toxic relationship adalah hubungan yang saling tidak mendukung atau hubungan yang diam hanya di tempat, tidak berkembang, berusaha untuk mengontrol hingga menguasai orang lain, di mana ada persaingan, tidak ada rasa percaya dan saling menghargai.

Read More : The Best Scholarships for Economics Programs in Texas


Secara perlahan hubungan tersebut menyita banyak waktu, selalu menguras energi dan dikelilingi perasaan was-was, hingga mampu menghilangkan jati diri. Pada awalnya hubungan tersebut tidak disadari karena masih tertutup rasa nyaman dan bahagia, akan tetapi jika hubungan seperti itu tetap dijalani lama-kelamaan akan merusak diri kita, secara fisik ataupun psikis.

Jika pada hubunganmu sudah mulai menunjukkan beberapa hal yang sudah disebutkan di atas, maka kamu harus lebih berhati-hati dan mulai memasang alarm untuk dirimu dan pasangan ya!

Read More : Computer Science College in Texas: Nurturing Tech Innovators


1. Toxic relationship: lebih banyak pikiran negatif daripada positif

Jika kamu merasa dirimu mengalami perubahan pola pikir dari yang biasanya sering berpikir positif tapi semakin ke sini banyak pikiran negatif dalam hubunganmu artinya ada yang perlu dibenahi dalam hubungan tersebut.

Pada beberapa kondisi tiba-tiba terbesit perasaan tidak aman (insecure), seolah-olah dirimu menjadi pribadi yang sangat rapuh, perubahan-perubahan sikap yang menurutmu menjadi bermasalah, seperti sering menangis, sering meras cemas, murung, hingga perasaan takut jika harus berhadapan dengannya.

Read More : Exploring the Best Psychology Colleges in Texas


Bahkan ketika kamu sedang dalam kondisi down kamu merasa harus menyelesaikan masalah itu sendiri, padahal itu adalah masalah kalian berdua. Jika sudah seperti ini artinya hubungan yang sedang kamu jalani tidak cukup dihargai olehnya, dia merasa ketika menarik diri dan menjaga jarak darimu adalah hal yang normal atau bisa dikatakan itu adalah sebuah hukuman darinya sehingga kamu terus-menerus merasa bersalah.

2. Toxic relationship: menjauhkan dari orang-orang terdekat

Secara tidak sadar toxic relationship akan mempengaruhi caramu berpikir terhadap lingkungan dan orang-orang terdekatmu. Dia tidak segan untuk memanipulasi orang-orang terdekatmu seolah-olah mereka tidak lagi menyukaimu.

Hal ini dikarenakan dia memiliki power atau kuasa lebih terhadap dirimu, dia akan memperlakukan dirimu seolah-olah lebih berharga dari siapapun. Bahkan tidak jarang pula dia membual tentang sikap orang-orang terdekatmu bahwa mereka mau berteman denganmu karena keterpaksaan.

Dia juga tidak segan menyakiti orang-orang di sekitarmu hanya untuk membuat bahwa tidak ada sosok yang terbaik bagimu selain dia. Jika hal tersebut terus berlanjut maka dia akan membuatmu menjadi ketergantungan terhadap keberadaan dirinya.

Kebanyakan orang toxic akan merasa senang jika dia dijadikan prioritas oleh pasangannya. Sikapnya yang posesif dalam hal melarang serta membatasi dirimu ketika melakukan aktivitas hingga mengatur dengan siapa berteman dan berinteraksi adalah semena-mena sebagai bentuk timbal balik dari sikapnya yang memperlakukanmu seolah-olah lebih berharga dari siapapun, padahal itu merupakan salah satu alibi agar dia dianggap sebagai satu-satunya bagimu.

3. Toxic relationship: takut untuk mengatakan tidak  

Apakah pada saat tertentu kamu sering diatur olehnya dan kamu tidak bisa menolak? Hanya karena kamu takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti misalnya, “Pulang kerja jam berapa? Besok aku yang jemput ke kantormu.

Nggak usah ada janjian sama temenmu kantor” atau “Jangan jalan sama temenmu itu, kalau masih jalan mending pergi dari rumah.”. Dari dua contoh tersebut menunjukkan bahwa dia memiliki wewenang penuh atas dirimu.

Kamu tidak diberi pilihan untuk mengatakan tidak ataupun memberikan alasan yang masuk akal kepadanya, alih-alih dia malah mengancam dirimu dan membuat rasa takutmu semakin memuncak, kamu takut jika nanti dia melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya, kamu takut jika kamu melanggar janji kamu akan diabaikan olehnya karena sikap manipulasi dari dia kamu merasa bahwa hanya dia yang mampu menerima dirimu.

 “Nggak apa-apa yang penting bahagia, dia nggak marah-marah atau kasar.”, awalnya kamu berpikir seperti itu akan tetapi lama-kelamaan dia akan memanfaatkan rasa takutmu, rasa bersalah, rasa malu hingga terpojokkan agar kamu bisa terus-terusan menuruti keinginannya.

Hubungan seperti ini jika diteruskan akan sangat tidak adil untukmu, karena kebahagiaan seseorang tidak seharusnya dirampas oleh orang lain.

4. Toxic relationship: dimulai dari kekerasan hingga pelecehan 

Pada awalnya toxic relationship mulai terlihat ketika terdapat kekerasan di dalam hubungan tersebut. Mulai dari kekerasan verbal hingga kekerasan fisik.

Seperti membentak atau menampar ketika kamu membantahnya, memukul atau menendang ketika kamu tidak menuruti keinginannya, mengabaikan kebutuhan kesehatanmu ketika sakit atau terluka, memaksamu melakukan hal-hal tak sewajarnya atau melecehkanmu secara terang-terangan, menghancurkan atau melemparkan benda yang ada di sekitarmu ketika sedang marah hingga berani menggunakan benda tajam di depanmu meskipun hanya berupa ancaman.

Jika kamu bertindak untuk melaporkan atau berniat untuk meninggalkan dia tidak segan akan mengancam bunuh diri di depanmu, seolah-olah yang menjadi korban adalah dirinya. Dia rela menghukummu bahkan mengisolasimu dari dunia luar jika kamu melakukan hal-hal yang tidak sesuai perkataannya, atau memojokkanmu di depan teman-temanmu seperti kamu yang salah.

Meskipun dia berkata untuk melindungi dirimu hal tersebut dilakukan bukan atas dasar cinta, melainkan ego semata. 

5. Toxic relationship: kehilangan diri sendiri

Jika indikasi toxic relationship semakin tampak nyata dalam hubunganmu maka semakin lama kamu akan kehilangan diri sendiri. Tidak jarang kamu akan mendapati dirimu sudah kehilangan kebiasaan yang dulu sering kamu lakukan, kehilangan kerabat terdekat hingga kehilangan minat ataupun cita-cita untuk masa depan.

Seolah-olah kamu merasa kebebasanmu sudah dirampas orang lain. Dimulai dari tidak adanya privacy, segala hal yang kamu lakukan akan dilacak oleh pasangan, seperti hack media sosial hingga mempersulit akses dengan mengetahui semua password akunmu.

Kemudian dia meyakinkan bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata agar kamu aman dan terhindar dari bahaya. Sehingga untuk menutupi kekhawatiran tersebut kamu menjadi sosok yang sering berbohong di depannya, banyak hal yang tidak kamu katakan padanya atau sengaja kamu tutupi agar terhindar dari ancaman-ancamannya, kamu menjadi lebih pemurung atau bahkan tempramental.

Tidak sadar kamu mengubah diri sendiri demi orang lain, padahal seharusnya kamu berubah karena memang dirimu sendiri yang menginginkannya. Di lain sisi sosokmu yang sekarang tidak lain karena dibentuk oleh pasanganmu sendiri. Hal ini membuatmu tidak lagi mengenali sosok asli yang ada pada tubuhmu.

Jika dibiarkan terus menerus toxic relationship dapat merusak self worth, kesehatan fisik dan gangguan mental seperti kecemasan, bipolar disorder hingga depresi. Sehingga untuk keluar dari hubungan seperti ini kamu perlu menyadari dan memiliki kemauan yang cukup tinggi serta keberanian untuk meninggalkannya.

Jangan berharap bisa merubah pasanganmu di masa depan, karena toxic relationship dapat menghancurkan kedua belah pihak. Sejatinya sebuah hubungan seharusnya berjalan dua arah, saling mendukung bukan saling menghambat.